Perencanaan Keuangan Syariah: Perspektif dari Quran Surat Al-Hasyr 57:18




Kenapa harus Merencanakan Keuangan ? Kenapa harus merencanakan dengan berlandaskan syariah? Dari diskusi pagi di Minggu akhir Januari 2026, Prof. Dr. Murniati Mukhlisin menjelaskannya dengan merujuk pada Q.S Al-Hasyr (57:18).  Dalam ayat tersebut ditekankan "وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ" (waltanẓur nafsun mā qaddamat li-ghad), yang artinya "hendaklah setiap jiwa menaruh perhatian apa yang telah dipersiapkan untuk esok". Pada frasa وَلْتَنظُرْ  (waltanẓur) terdapat لَاُ   dalam bentuk fi’l amr atau perintah. Artinya, setiap orang beriman diperintahkan untuk merencanakan masa depan. Maka ketika kita melakukan perencanaan dengan niat yang benar, sejatinya kita sedang beribadah kepada Allah.

Kemudian, dalam Tafsir Munir disebutkan penggunaan kata نَفْسٌ  (nafsun) di sini sebagai isim nakirah memberi isyarat at-taqlīl—yakni gambaran bahwa yang benar-benar melakukan muhasabah dan memperhatikan persiapannya itu hanya sedikit. Semoga kita termasuk orang yang sedikit itu.

Lalu kemudian ada perintah takwa yang diulang dua kali, diawali dengan اتَّقُوا اللَّهَ  lalu setelah perintah “memperhatikan” kembali ditegaskan وَاتَّقُوا اللَّهَ. Seolah Allah memberi bingkai yang jelas: perencanaan dimulai dengan takwa dan diakhiri dengan takwa. Perencanaan bukan membuat kita lupa Allah, tetapi justru menguatkan kesadaran bahwa Allah Maha Teliti atas apa yang kita kerjakan.

Kalau dilihat dari sini, perencanaan keuangan berdasarkan syariah bukan bertujuan sekedar “menumpuk harta” atau “mengejar kaya” atau hanya “ mengejar kesejahteraan”. Perspektifnya begeser perencanaan keuangan itu ditujukan agar kita semakin bertakwa, semakin beriman, semakin mudah beramal, silaturahmi makin baik, keturunan lebih terjaga, lebih stabil dalam mengahadapi dinamika ekonomi, hidup selamat di dunia dan akhirat.

Nah lalu bagaimana caranya melakukan perencanaan keuangan sesuai syariah? Kita bisa mengambil hikmah dari kisah Nabi Yusuf pada QS. Yusuf ayat 43. Diceritakan bahwa Raja Mesir bermimpi tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang kemudian dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus dan lemah. Ia juga melihat tujuh tangkai gandum yang hijau berhadapan dengan tujuh tangkai lain yang kering. Raja kebingungan, sampai akhirnya Allah menolongnya lewat Nabi Yusuf untuk menafsirkan makna mimpinya. Nabi Yusuf berkata bahwa akan ada fase masa subur selama tujuh tahun, lalu datang masa kering yang panjang dan berat selama tujuh tahun berikutnya. Setelah itu, akan tiba lagi masa yang baik.

Lalu Nabi Yusuf menyarankan Raja untuk melakukan perencanaan keuangan dengan cara menabung, menyimpan dan menjaga sebagian untuk persiapan masa panceklik . Jangan habiskan hasil panen seluruhnya. Sebagian hasil panen perlu disimpan dan dijaga, agar cukup untuk menghadapi masa paceklik. Targetnya adalah bertahan ketika masa sulit datang.


Kisah Nabi Yusuf sangat relevan dengan perencanaan keuangan kita hari ini. Ada masa ketika rezeki terasa lapang, pemasukan bagus, peluang terbuka. Tapi masa lapang itu bukan alasan untuk menghabiskan semuanya. Justru di masa itulah, kita perlu menyiapkan cadangan agar saat memasuki fase yang lebih berat, kita tidak goyah.


Dan ketika kita mampu melewati masa-masa sulit itu, maka hidup bisa lebih terjaga secara keseluruhan: bukan hanya harta, kita dapat menjaga agama, jiwa, akal dan keturunan kita (maqāṣid al-syarī‘ah). Yuk Mulai.

 

 


 

Share on Google Plus

About IMAN AMAL SABAR TAWAKAL

Website ini didedikasikan untuk media belajar tentang keadilan hukum.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment