Mulai Action: Menyusun Anggaran Setelah Tahu Kebutuhan dan Risiko

Setelah kita memahami kebutuhan finansial kita, langkah berikutnya adalah mulai action. Tindakan y paling awal yang bisa dilakukan adalah menyusun anggaran. Agar lebih mudah memetakan keuangan, pengeluaran sebaiknya diidentifikasi minimal ke dalam lima kategori berikut:

1. Makanan

2. Cicilan (KPR, kredit, atau kewajiban finansial lainnya)

3. Tabungan

4. Hiburan

5. Sedekah (zakat, infak, dan sedekah)

Setelah kategori pengeluaran jelas, kita sederhanakan pencatatan jadi dua komponen besar:

·   Cash inflow: arus kas masuk (gaji, honor, usaha, bonus, dan lain-lain)

·   Cash outflow: arus kas keluar (semua pengeluaran berdasarkan kategori)




Jika cash inflow dan cash outflow sudah terlihat, tahap berikutnya adalah mengaturnya menggunakan rumus yang mudah diingat. Salah satu yang saya suka adalah rumus 1–2–3–4, yaitu:

  • 10% untuk zakat, infak, dan sedekah
  • 20% untuk masa depan: dana darurat dan investasi yang halal
  • 30% untuk kewajiban finansial: membayar cicilan secara bertanggung jawab (KPR, utang produktif, dan sejenisnya)
  • 40% untuk biaya hidup (kebutuhan harian, termasuk kebutuhan rumah tangga)

Dari pemetaan itu kita bisa melihat kondisi keuangan kita: surplus atau defisit. Surplus artinya pengeluaran lebih kecil daripada pemasukan. Sedangkan defisit artinya pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Jika sudah surplus, selamat, ini langkah baik dalam merencankan keuangan. Jika masih defisit, coba diotak-atik lagi, mungkin ada post yang dapat dikurangi. Kalau teman-teman butuh bantuan untuk melihat dan menganalisis apakah pemasukan-pengeluaran sudah sehat atau belum, nanti bisa hubungi email ini untuk dibantu rahmawati.putri27@gmail.com.

 

 

 



Share on Google Plus

About IMAN AMAL SABAR TAWAKAL

Website ini didedikasikan untuk media belajar tentang keadilan hukum.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment